March 30, 2013

[Review] Madre (2013)


"Di dunia ini tidak ada yang rela menjual ibunya sendiri dan Madre itu ibarat ibu saya!" - Tansen

Madre adalah film adaptasi dari novel karya Dewi Lestari dengan judul yang sama. Sebelumnya saya belum membaca novelnya tapi saya mencoba untuk berkeyakinan bahwa film ini bisa dinikmati tanpa membacanya terlebih dahulu. Novelnya sendiri terdiri dari beberapa cerita namun Benni Setiawan membuat film ini menjadi satu kesatuan utuh berbeda dengan film adaptasi karya Dewi Lestari yang terdahulu, Rectoverso. Seperti yang dapat ditebak, tentu saja film ini ditambahi beberapa cerita diluar novelnya.

Tansen (Vino G. Bastian) , seorang suffer dari Bali yang terbiasa hidup bebas tanpa terjerat suatu ikatan. Rutinitas yang dilakukan sehari-hari adalah berselancar dan mencari ombak tertinggi. Namun terkadang dia juga membagi pengalamannya pada sebuah blog pribadi yang diberin nama Sang Pencari Ombak. Suatu ketika, dia mewarisi sebuah toko roti bernama Tan Den Bakker yang sudah lama tutup. Madre, adalah nama biang roti yang didapat dalam sebuah lemari es di dalam Tan Den Bakker. Orang yang tinggal di Tan Den Bakker yaitu Pak Hadi (Didi Petet) mengatakan bahwa Tansen adalah satu-satunya orang yang mampu menghidupkan kembali Tan Den Bakker. Karena Tansen sebelumnya belum pernah berpengalaman dalam bidang bisnis, dia begitu gagap untuk mengemban tanggung jawab seperti ini. Pada akhirnya dia bertemu Mei (Laura Basuki), seorang wanita yang juga pembaca setia blog Tansen yang juga menawari untuk membantu Tansen dalam mengembangkan bisnis roti.


Ketika itu, saya menonton bersama beberapa teman yang juga penikmat karya Dewi Lestari. Mereka bilang sedikit puas melihat film ini dibandingkan dengan Perahu Kertas. Begitu pun saya. Dari keseluruhan plot memang terlihat klasik. Cerita percintaan antara seorang pria yang kesehariannya berantakan kemudian bertemu tuan putri yang mencoba untuk membantu mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Tetapi apa yang menarik disini terletak pada bumbu utamanya yaitu biang roti. Berawal dari biang roti, film ini berkembang menjadi kisah persahabatan antara Tansen dan Pak Hadi kemudian menjadi ketertarikan Tansen terhadap Mei. Peran Pak hadi yang dibawakan Didi Petet sangat pas, bahkan dengan kelakuan-kelakuan konyolnya yang sangat bisa membuat penonton tertawa dari awal-awal film. Unsur canda meningkat hingga datangnya pegawai-pegawai Tan Den Bakker yang sudah lama pensiun. Ada ekspetasi saya yang kurang terhadap film ini, yaitu tentang terlalu banyaknya porsi asmara antara Tansen dan Mei dibandingkan dengan proses pembuatan roti. Akan lebih manis jika film ini memberikan lebih banyak pengetahuan tentang roti. Jadi selesai meonton film ini, penonton bisa mendapatkan sesuatu ketimbang kisah asmara yang mudah dilupakan.

Untung saja chemistry yang dibawakan Vino G. Bastian dan Laura Basuki terlihat meyakinkan. Seorang Laura Basuki masih bisa tampil begitu anggun menutupi apa yang terlihat kurang dari Vino G. Bastian. Namun sayang, pemain yang berperan sebagai pegawai-pegawai Tan Den Bakker hanya sebagai pelengkap padahal akting mereka yang kocak masih bisa dimaksimalkan. Beberapa sinematography khas barat juga ditampikan disini, seorang Tansen yang berjalan di tepian gedung kemudian di shoot dari samping. Gedung-gedung bergaya kuno dari Jalan Braga terlihat menarik untuk dilihat. Tidak hanya di Bandung, ada suatu scene yang diambil ketika malam hari di tepi pantai ketika bulan dan bintang masih jelas. Sangat cantik sebagai pemanja mata. Sekali lagi yang kurang dalam film ini, pengemasannya begitu lama. Penonton dibuat tertawa dari awal kemudian grafik menurun menuju kebosanan. Konflik yang disajikan dengan datangnya orang ketiga sangat klise dan mudah ditebak. Naskahnya yang kurang kuat membuat penonton terlalu capek untuk menikmati bagian akhirnya dan ditutup dengan ending yang kurang begitu maksimal untuk membekas di hati penonton.




4 comments:

  1. hmmm kayaknya menarik untuk ditonton :) thanks buat reviewnya...
    btw cakra kembar salah satu sponsor film ini ya? hahaha

    ReplyDelete
  2. aku belum pernah nonton filmnya sih, tapi kalau baca noveletnya sudah. Noveletnya keren kok malah kisah cinta si Tansen dan Mei gak terlalu mendominasi. :D Nice post! Membuat saya terinspirasi buat nonton nanti.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah saya jadi pengen membaca noveletnya juga :D

      Delete