March 06, 2014

[Review] The Right One (2014)


Bulan Februari lalu, dikenal kebanyakan orang dengan bulan penuh cinta. Berbagai pembuat film menempatkan film-film romantis andalannya dalam bulan tersebut. Tak ketinggalan dengan sineas Stephen Odang, yang mengunggulkan film romantis besutannya, The Right One dalam salah satu jajaran film yang turut menghiasi layar lebar di Indonesia. Jika menyaksikan trailernya, kelihatan menarik sekali karena bersetting di pulau Dewata, yang notabene sangat mendukung sekali suasananya untuk sebuah film-film romantis. Apalagi daya ketertarikan saya ingin menonton film ini menjadi berlebih ketika saya tak sengaja membaca pernyataan di sosial media bahwa The Right One tidak akan tayang di stasiun televisi dan YouTube. Tentu hal ini membuat saya bertanya-tanya besar tentang apa yang sebenarnya menjadi begitu istimewa dalam The Right One hingga tak ada niat sedikitpun bagi pembuat film untuk menayangkannya di media lain.

Premis cerita dalam The Right One ini sama seperti yang terpampang dalam materi posternya, begitu sederhana. Alice (Tara Basro) adalah seorang pekerja yang baru saja dipecat, hendak menenggak sebotol bir di sebuah bar, entah merupakan sebuah kebetulan dia berpapasan dengan seorang pria bernama Jack (Gandhi Fernando). Selanjutnya mereka terlibat dalam sebuah percakapan menyenangkan yang mengantarkan mereka untuk menghabiskan waktu bersama-sama pada hari itu. Penonton juga diajak berjalan-jalan dan menikmati pemandangan di Bali selama mereka mengobrol. Tak hanya itu, di sela-sela perjalanan kecil ini juga diselipi adegan flashback yang menandakan bahwa tanpa sadar mereka sebenarnya sudah seringkali berpapasan.




















Ya satu hal yang sangat menjadi perhatian dalam The Right One mungkin di bagian narasinya yang begitu dominan dengan bahasa Inggris. Bagi beberapa penonton mungkin malah merasa sedikit annoying dengan penggunaan dialog berbahasa Inggris yang terkesan sok asik, saya akui hal tersebut memang benar adanya, jadi pertanyaan besar buat saya mengapa harus menggunakan bahasa Inggris, terlepas dari mana kedua tokoh utama berasal mengapa tak menggunakan bahasa Indonesia saja yang notabene malah justru lebih dekat dengan penonton. Sayangnya, kedalaman cerita juga terkesan sangat sangat dangkal. Saya tak melihat kefokusan cerita yang kuat waktu flashback dan alur yang sekarang, jika itu ingin dimaksudkan untuk menjelaskan bagaimana sebenarnya mereka sudah bertemu sedari beberapa tahun yang lalu, lantas kenapa? Dan juga sayang sekali pembuat film tak menggunakan dengan cerdas potensi yang ada selama bersetting di Bali, bahkan saya melihat Bali yang begitu dikenal dunia akan keindahannya itu terlihat biasa-biasa saja di dalam The Right One.

Pada pertengahan film yang menurut tebakan saya seharusnya bakal menghadirkan suatu hal yang memuncak, malah justru menyajikan cerita yang membuat saya berputar otak karena saking bingungnya. Seolah-olah saya harus dipaksa menyusun puzzle yang ternyata beberapa kepingannya hilang. Dan hilangnya kepingan tersebut tak disertai dengan alasan yang masuk akal sehingga membuat saya harus memaksakan untuk membuat kepingan puzzle yang baru guna menyempurnakan susunan puzzle yang dibuat. Sungguh sayang sekali, apalagi saya juga tak bisa sedikitpun menikmati akting dari kedua tokoh utama. Seharusnya, iya seharusnya, tokoh perempuan dan tokoh laki-laki yang menjadi fokus cerita dalam sebuah film romantis adalah jagoan utama yang memegang erat perhatian penonton. Tetapi sialnya, saya hanya melihat keduanya berakting hanya sekedar memenuhi kebutuhan film, tak ada nyawa yang benar-benar kuat di dalamnya. Sebenarnya The Right One adalah film yang ringan, tetapi dengan penyampaian yang terkesan tak biasa justru membuatnya menjadi film yang tak memuaskan.




No comments:

Post a Comment