March 09, 2014

[Review] 300: Rise of an Empire (2014)


Sudah sekitar delapan tahun silam sejak film pertamanya, 300 (2006) yang dinahkodai Zack Snyder merajai box office. Bahkan quote "THIS IS SPARTA!!!" milik seorang Raja Leonidas pun berhasil melekat di benak penonton hingga sekarang. Seakan ingin menambah pundi-pundi emas, installment keduanya yang kali ini dinahkodai oleh seorang sineas Noam Murro yang namanya sendiri sepertinya kurang dikenal dalam kancah perfilman Hollywood. Installment yang bertajuk Rise of an Empire ini sendiri pun diadaptasi dari novel graphic karya Frank Miller yang awalnya berjudul Xerxes kemudian dirubah menjadi Battle of Artemisia yang akhirnya berubah lagi menjadi sekarang ini, sebenarnya belum diterbitkan tapi sudah rilis dalam layar lebar terlebih dulu. Memang sebuah pertaruhan yang besar apalagi kita paham betul sebenarnya akhir dari 300 sudah begitu jelas. 300 yang berhasil melambungkan nama Zack Snyder kini hanya menjabat di kursi produser dikarenakan sibuknya menyutradari proyek Man of Steel.

Dalam film pendahulunya, kita tahu betul bahwa sosok tangguh Raja Leonidas beserta 300 pasukannya menghadang pasukan Rusia yang dipimpin oleh Xerxes demi melindungi Yunani. Dan kita juga tahu betul bahwa Raja Leonidas tewas di tengah peperangan. Dalam waktu yang sama, dimana Raja Leonidas yang berperang di bagian Utara Yunani, film kelanjutannya ini menceritakan bagaimana seorang prajurit tangguh yang lain, Themistocles (Sullivan Stapleton) yang ternyata mempunyai riwayat pernah memukul mundur prajurit Persia dan melukai pemimpinnya hingga tewas yakni Raja Darius (yang tengah diketahui adalah ayah Xerxes) beberapa tahun yang lalu. Kini Themistocles mendapat jatah untuk mempertahankan lautan Yunani di bagian Selatan. Ancaman datang dari sosok cantik bernama Artemesia (Eva Green) yang merupakan komandan dari beribu-ribu pasukan Persia yang lain dalam ratusan kapal guna menaklukkan Yunani. Berbekal pasukan seadanya dan menunggu bala bantuan datang, Themistocles tak gentar menghadapi Artemesia.

Pada paruh awal, penonton dihadapkan pada prolog menarik yang menjelaskan asal mula Xerxes, dan juga latar belakang Artemesia. Setelah tahap itu berakhir, Noam Murro tak tanggung-tanggung untuk menyajikan sederetan baku hantam pedang dalam perang epik antara pasukan Yunani dan Persia yang maha dahsyat. Adegan battle slow motion dibalut dengan special effect yang cantik dan sangat menghibur dalam suasana apocalypse-nya. Hanya saja, cipratan darah balutan CGI tampak sedikit tidak terlihat meyakinkan. Karena ini film tentang perang, tentu akan banyak adegan-adegan yang tak patut untuk dilihat penonton usia kecil. Ya, 300: Rise of an Empire memang benar-benar memanjakan penonton usia dewasa. Segala teknik-teknik perang beserta koreografinya, hingga kehancuran besar terlihat begitu rapi sehingga menyenangkan untuk diikuti. Bahkan, sebagian besar setting perang epik ini berlokasi di tengah-tengah lautan. Sungguh merupakan hal yang boleh dibilang jarang untuk ukuran film perang. Drama yang disajikan juga dalam porsi yang kecil sehingga nampak kokoh membuktikan bahwa 300: Rise of an Empire benar-benar sebuah film perang.

Hal yang membedakan dengan installment pendahulunya adalah tidak terlihat sedikitpun karismatik dalam karakter utamanya. Sullivan Stapleton sebagai Themistocles kurang berhasil memperlihatkan sosok heroik penuh pesona yang sebelumnya berhasil ditunjukkan Gerard Butler sebagai Raja Leonidas. Pun dengan Xerxes yang seharusnya menjadi sosok antagonis yang kejam nan mengerikan, hanya sebagai tempelan di 300: Rise of an Empire saja yang seakan menandakan bakal ditunjukkan dengan porsi yang lebih besar dalam installment berikutnya Justru sosok Artemesia yang terlihat menonjol disini. Performa Eva Green begitu kuat didukung dengan latar belakang yang juga begitu kelam sehingga melahirkan sosok mesin pembunuh dalam wujud seorang wanita. Tatapannya yang dingin berhasil melebur dengan karakterisasinya sebagai komandan paling mengerikan yang pernah dimiliki pasukan Persia. Terakhir, 300: Rise of an Empire adalah film yang memakai bagian-bagian yang pernah dimiliki pendahulunya, ditambah setting yang baru, kehancuran total yang luar biasa, dan sosok antagonis yang kuat berhasil menutupi segala kekurangannya.

No comments:

Post a Comment