February 06, 2014

[Review] The Past (2013)


"There is still one little similar thing between me and my wife to not get divorce.
The color of  our countries flags!" - Shahryar

A Separation memperkenalkan saya kepada sineas fenomenal asal Iran bernama Asghar Farhadi. Betapa tidak, film yang dibintangi Peyman Moaadi tersebut mendapat banyak respon positif dari banyak pihak. Bahkan mampu memboyong piala botak emas dalam kategori Best Foreign Language pada tahun 2012 lalu. Ya, itu adalah kemenangan Oscar pertama bagi perfilman Iran. Siapa sangka, film yang hanya mempunyai premis sederhana yakni perceraian dalam sebuah rumah tangga mampu mengaduk-aduk emosi penonton hingga credit title bergulir. Jika dicermati, di sepanjang cerita A Separation tak ada sedikitpun scoring yang mengiringi. Kali ini sang sineas kembali hadir dengan karya teranyarnya yakni The Past yang mempunyai judul asli Le Passe, juga menyinggung sebuah konflik dalam rumah tangga. The Past juga mendapat nominasi di ajang Golden Globe 2014 lalu dalam kategori yang sama meski akhirnya harus kalah oleh The Great Beauty dari Italia.

The Past bercerita tentang seorang pria bernama Ahmad (Ali Mosaffa) yang kembali ke Paris setelah empat tahun lamanya untuk bertemu mantan istrinya, Marie (Berenice Bejo) sekaligus menyelesaikan urusan perceraiannya. Tetiba di rumah Marie, Ahmad bertemu dengan dua orang putrinya dan juga seorang anak laki-laki bernama Fouad (Elyes Aguis). Ternyata Fouad adalah seorang putra dari seorang pria yang juga merupakan calon suami Marie yang baru, bernama Samir (Tahar Rahim). Ahmad juga mendapati kenyataan bahwa putri tertuanya, Lucie (Pauline Burlet) sangat tidak setuju dengan rencana pernikahan Marie dengan Samir. Kemudian konflik pun berkembang hingga mendapati kenyataan berikutnya bahwa Samir sebenarnya adalah seorang suami yang masih mempunyai seorang istri yang saat ini sedang terbaring koma di rumah sakit. Terdengar rumit bukan?

Sekalipun konfliknya begitu rumit. Asghar Farhadi mengemasnya dengan begitu rapi dan memunculkannya sedikit demi sedikit hingga penonton paham betul rangkaian cerita yang sebenarnya ingin disampaikan. Sama halnya dengan A Separation, premis yang disajikan begitu sederhana. Dengan kecerdasan seorang Asghar Farhadi, justru dari sebuah kesederhanaan itulah dibangun sisi emosional yang begitu dalam dari tiap-tiap karakternya. Ya, masing-masing tokoh berperan luar biasa hingga mampu memegang kendali perhatian penonton hingga akhir. Memang konflik yang banyak disajikan tak lepas dari pertengkaran. Bahkan Fouad kecil turut serta bermain apik dalam sebuah momen yang mendatangkan konflik dengan ibunya, Marie. Asghar Farhadi juga memperhatikan detail-detail kecil diluar ekspetasi penonton. Contohnya, setelah momen pertengkaran, sang sineas menyelipkan sebuah momen kecanggungan yang hening antara Samir dan Ahmad. Bagi saya, momen kecil seperti itulah yang menjadi pemanis konflik.

Karena The Past adalah sebuah film drama, tentu penonton tak akan mendapat adegan aksi yang berlebihan. Sekali lagi, Asghar Farhadi juga tak sedikitpun menyelipkan alunan scoring untuk mengiringi tiap-tiap momen. Mungkin dimaksudkan agar penonton mencermati setiap dialog tiap-tiap karakter tanpa harus terganggu dengan elemen lain. Melalui perbincangan, informasi-informasi serta misteri-misteri yang menimbulkan pertanyaan disampaikan secara runtut hingga nantinya akan menjadi sebuah kejutan. Satu lagi hal yang mirip dengan A SeparationThe Past menempatkan semua karakter dalam Grey Area. Maksudnya, tak ada karakter yang benar-benar baik dan karakter yang benar-benar jahat. Semuanya terasa manusiawi. Semuanya mempunyai alasan yang kuat untuk melakukan apa yang mungkin penonton anggap salah. Terlepas dari penonton menyikapinya, ada begitu banyak pesan moral yang tersirat dalam The Past. Meskipun tak sehebat A Separation, tapi Asghar Farhadi mampu mengulangi sihirnya yang menyajikan kerumitan konflik dalam kesederhanaan premis.


No comments:

Post a Comment