January 18, 2014

[Review] Blue Jasmine (2013)


"Some people, they don't put things behind so easily." - Augie

Woody Allen, seorang sineas eksentrik yang telah banyak melahirkan karya-karya berkualitas. Sebut saja yang paling fenomenal Annie Hall (1977) yang telah menggondol empat piala Oscar. Kali ini, Allen kembali dengan sebuah film yang naskahnya dia tulis sendiri dan juga sukses membawa artis utamanya asal Australia, Cate Blanchett masuk dalam nominasi Oscar 2014 kategori best actrees. Tak banyak saya menonton karya-karya Allen, tapi beberapa yang sudah saya tonton, semuanya memang mempunyai ciri khas seorang Woody Allen. Tapi dalam Blue Jasmine kita tidak terlalu banyak diajak jalan-jalan menyusuri pemandangan kota-kota seperti Midnight in Paris (2011) melainkan diajak menyusuri ke dalam permasalahan kompleks yang dialami oleh sosok Jasmine. Banyak respon positif dari kalangan kritikus yang membuat saya semakin penasaran terhadap film ini.

Jeanette Francis (Cate Blanchett) sebelumnya hidup dalam kemewahan, bersuami seorang pengusaha kaya bernama Hal (Alec Baldwin). Di belakang Jeanette, ternyata Hal seringkali melakukan perselingkuhan. Hingga pada waktunya Jeanette mengetahui itu semua dan menyebabkan pertengkaran besar diantaranya. Malangnya, bisnis ilegal yang dijalankan oleh Hal juga diketahui oleh pihak kepolisian. Tentu membuat Jeanette harus berpisah dengan suaminya tanpa menyisakan sedikitpun uang sehingga Jeanette berada dalam kemiskinan. Akhirnya Jeanette memutuskan untuk pindah rumah dan tinggal sementara bersama adiknya, Ginger (Sally Hawkins) dan merubah namanya menjadi Jasmine. Akibat permasalahan sebelumnya membuat Jasmine begitu depresi dan seringkali berbicara sendirian. Disisi lain, Ginger tengah menjalin hubungan dengan Chili (Bobby Cannavale) yang tentu saja keadaan hubungan mereka akan berubah semenjak kehadiran Jasmine. Pada intinya, film ini bercerita tentang masa-masa sulit yang harus dihadapi oleh Jasmine sepeninggal suaminya, Hal.


Honestly, apa yang disuguhkan dalam Blue Jasmine tak ada yang benar-benar baru dari apa yang biasanya digunakan Woody Allen dalam bercerita. It's so classic! Lantas tak membuat Blue Jasmine terasa begitu biasa-biasa saja. Justru dari kesederhanaan permasalahan yang diangkatlah yang membuat Woody Allen bisa mengemasnya menjadi sebuah sajian yang begitu menarik. Lihat saja betapa benar respon yang datang dari para kritikus, Cate Blanchett memang berada dalam performa yang meyakinkan sebagai sosok Jamine. Bagaimana dia mampu menunjukkan menjadi seorang wanita yang mempunyai sisi depresif, arogan tanpa harus terlalu mendramatisasi. Bagaimana dia juga mampu menarik simpati penonton hingga akhirnya kembali pada inti cerita. Bahkan di suatu kesempatan, dia juga mampu memberikan kesan komediknya tanpa pernah kehilangan sisi emosionalnya. Tak lupa juga dengan peran meyakinkan dari partnernya, Sally Hawkins yang berperan sebagai Ginger yang turut menunjang keberhasilan peran Jasmine.

Dibalik Blue Jasmine tersimpan kritik terhadap sosial dengan nafas satir yang terasa tajam. Penggambaran yang kuat tentang seseorang yang dulunya kaya tiba-tiba jatuh miskin. Dan seseorang itu masih belum menerima tentang keadaannya yang sekarang sehingga masih sedikit mempunyai gaya hidup mewah walaupun tidak punya apa-apa. Sungguh ironi. Memang beginilah gaya penceritaan seorang Woody Allen. Bahkan saya belum berbicara mengenai dialog-dialog cerdas juga menarik sepanjang film ini bergulir yang membuat penonton berdecak kagum tanpa pernah merasa bosan dibuatnya. Bahkan Allen mampu menyelipkan komedi-komedi menghibur yang tak membuat porsi dramanya berkurang. Masih dengan ciri khas Allen, Blue Jasmine juga masih bernuansa Jazz sehingga membuatnya terasa riang. Secara personal, Woody Allen termasuk dalam sineas favorit saya dan dengan kehadiran Blue Jasmine saya tak perlu ragu lagi menjawab dengan lantang jika ada yang bertanya kepada saya, "Apa film Woody Allen favoritmu?"


2 comments: