June 15, 2014

[Review] Mari Lari (2014)


Tentu sudah banyak sekali film yang mengusung tema olahraga. Karena selain sebagai hiburan, film dengan tema olahraga seringkali mengeksplore lebih dalam sisi menarik mengenai sebuah cabang olahraga yang disinggung. Tak bisa dipungkiri, hal tersebut setidaknya mampu menghipnotis beberapa penonton awam yang sebelumnya acuh tak acuh terhadap cabang olahraga tersebut menjadi tertarik untuk menekuninya. Tak ketinggalan juga di Indonesia, yang sering diangkat ke layar lebar selama ini masih seputar sepak bola tapi tak menutup kemungkinan dengan cabang olahraga yang lain. Belakangan, sepertinya lagi trend komunitas lari. Mari Lari adalah debut penyutradaraan dari sineas asal Indonesia, Delon Tio yang sebelumnya lebih sering sebagai produser (6:30, Claudia/Jasmine, Rumah Dara, Gara-gara Bola, Simfoni Luar Biasa). Memasang aktor utama Dimas Aditya dan si cantik Olivia Jensen, mari kita lihat apakah Mari Lari mampu bertahan di tengah gempuran film-film musim panas Hollywood.

Mari Lari memperkenalkan penonton kepada seorang Rio (Dimas Aditya). Sejak kecil, Rio tak pernah menuntaskan apapun dalam hidupnya. Mulai dari latihan karate, kursus piano, hingga kuliahnya di Australia. Tentu hal tersebut membuat sang Ayah (Donny Damara) murka. Terakhir Rio nekat pergi dari rumah lantaran tak ingin merampungkan kuliah hukumnya yang terbengkalai. Rio lebih memilih tinggal di kamar kecil di sebuah showroom mobil tempat dia bekerja daripada mendengar omelan ayahnya. Hingga kemudian sang Ibu (Ira Wibowo) yang sering memanjakannya meninggal dunia sehingga Rio memutuskan untuk pulang. Kepulangan tersebut membawa sebuah harapan bagi Rio tatkala melihat undangan Marathon 42 Km di Bromo yang ditujukan kepada Ibunya. Dibantu oleh teman rekan kerjanya, Anisa (Olivia Jensen) Rio mulai berlatih menjadi pelari yang tangguh demi membuktikan kepada ayahnya bahwa dia mampu menggantikan undangan yang ditujukan kepada sang Ibu dan menyelesaikan garis finish di Marathon 42 Km tersebut.


Mari Lari memberikan angin segar bagi perfilman Indonesia, karena ya bisa dibilang baru karena mengangkat genre drama romantis dengan tema olahraga Lari. Pada pembukaan ceritanya, Mari Lari memulainya dengan perlahan tapi menyenangkan sehingga tak butuh waktu berlama-lama bagi penonton untuk terikat dengan chemistry para karakternya. Ya, Dimas Aditya berhasil mengemban dengan bagus tugasnya sebagai karakter Rio. Penonton yang beranjak dewasa mungkin akan merasa begitu dekat juga bersimpati kepada Rio dan segala problematika kehidupannya. Beruntung ada Olivia Jensen yang beperan sebagai love interest Rio sebagai Anisa. Kepribadian Anisa yang begitu lembut dan parasnya yang cantik hingga aura seksinya menjadi pelengkap bagi sosok Rio. Bahkan, Doni Damara sebagai sang Ayah mampu melebur hangat dengan Rio. Beberapa karakter pembantu juga melakukannya tugasnya dengan pas sehingga tanpa pengembangan pun juga tak ada masalah.

Ada begitu banyak pesan yang ingin disampaikan dalam film ini, dengan penyajian yang menarik hingga eksekusi apik dari sang sutradara, membuat pembawaannya tak terkesan menggurui. Bagaimana penjelasan Running Schedule dari Anisa sungguh menarik untuk disimak. Akan tetapi, bagi saya kekurangan dari Mari Lari ini adalah pendalaman konfliknya. Grafik penonton dari awal hingga akhir berasa konsisten tanpa pernah mencapai puncaknya sehingga sedari awal emosi saya tak berhasil untuk dipermainkan. Kemudian fokus Marathon 42 Km di Bromo juga kurang mendapatkan perhatian. Banyaknya pemandangan yang seharusnya bisa ditangkap dengan cantik hanya ditampilkan sedikit sekali. Mungkin jika ditangani  oleh sinematografi yang handal, maka melihat karakter-karakter yang lari sepanjang 42 Km, penonton akan terasa ikut serta di dalamnya. Terlepas dari itu, Mari Lari tetap layak untuk disaksikan, mengikuti dialog Anisa, ini tak hanya sebuah film mengenai lari, ini adalah film semua orang yang sedang berproses menuju pencapaiannya. Mari Menonton!



No comments:

Post a Comment