June 08, 2014

[Review] Maleficent (2014)


Again and again. Film dengan adaptasi dongeng yang dikemas dengan sudut pandang berbeda tentu bukanlah hal yang terbilang baru lagi. Menilik beberapa tahun belakangan, sudah ada Red Riding Hood (2011), Mirror Mirror (2012), Snow White and The Hunstman (2012), Jack and The Giant Slayer (2013), dan Hansel & Gretel: Witch Hunters (2013). Kali ini, sebuah cerita klasik tahun 1959 dengan sosok putri Aurora, yang terkenal lewat judul Sleeping Beauty menjadi proyek teranyarnya Disney sebagai sajian musim panas tahun ini. Film yang bercerita tentang putri tidur ini adalah proyek debutan sang sineas Robert Stomberg, yang sebelumnya lebih dikenal sebagai master of special effect dengan prestasinya yang sukses telah memboyong piala Oscar melalui Avatar dan Alice in Wonderland. Tentu bukanlah perkara yang mudah bagi sang sineas untuk mencoba peruntungannya melalui Maleficent ini mengingat film-film dengan adaptasi dongeng klasik selalu menjadi incaran empuk bagi kritikus-kritikus dunia maupun penonton awam yang terlanjur mencintai kisah aslinya.

Sesuai dengan judulnya, penonton dikenalkan dengan Maleficent, peri cantik yang tinggal di sebuah tempat nan indah bernama The Moors yang dihuni oleh mahkluk-mahkluk magis. Sejak umurnya yang masih belia, Maleficent adalah sosok peri yang baik hati, dengan kekuatan sihirnya dia sering mengobati tanaman-tanaman yang rusak sehingga mahkluk-mahkluk yang tinggal di The Moors pun bersimpati padanya. Suatu ketika, Maleficent bertemu dengan manusia bernama Stefan. Sejak pertemuan itu pun, Maleficent seringkali menghabiskan waktu bersama Stefan yang tentu saja melahirkan sebuah perasaan cinta. Sungguh malang nasib Maleficent, tiba-tiba saja Stefan pun pergi tanpa kabar meninggalkannya. Waktu berlalu cepat, Maleficent (Angelina Jolie) tumbuh besar dan menjadi kuat sehingga mampu melindungi The Moors dari serangan pasukan manusia yang dipimpin oleh King Henry yang ingin menguasai tempat magis itu. Berikutnya tanpa diduga, Stefan dewasa (Sharlto Copley) kembali muncul untuk menemui Maleficent yang ternyata membawa sebuah rencana kejam yang membuat kepribadian Maleficent berbalik 180 derajat.

Memang benar apa yang saya takutkan, meskipun sudah begitu lama berkecimpung di dunia perfilman dan menjadi seorang ahli dalam spesial efek tidak serta merta membuat Robert Stomberg menjadi sutradara yang beruntung dalam debut penyutradaraannya. Memang perlu diakui bahwa sejauh mata memandang, sajian visual dalam dunia Maleficent ini sungguh cantik dan mempesona mata. Detail sudut dan pencahayaan digarap dengan begitu serius dan tertata rapi sehingga menghasilkan suatu kenikmatan magis tersendiri. Memasang karakter sentral, Angelina Jolie sebagai Maleficent tentu adalah pilihan yang benar-benar tepat. Performa luar biasanya yang tentu sudah tak diragukan lagi, apalagi semakin menyakinkan dengan dukungan besar dari departemen tata rias dan kostum, lihat saja balutan sayap yang memperkokoh auranya sebagai penyihir, tulang pipi yang menonjol, hingga kulit pucatnya yang membuatnya tetap cantik walau kejam. Tapi tentu, sebenar-benarnya menonton film sebagai sebuah sarana hiburan tak hanya bermodalkan itu saja. Harus ada simbiosis mutualisme dari semua segi, terutama dan yang paling utama adalah dari segi cerita.

I swear to God, without powerful performances by Angelina Jolie, I almost sleep in theatre. Saya pikir adalah sebuah kewajaran yang patut dimaafkan dari kebanyakan film yang memulainya dengan sedikit terbata-bata, asalkan berikutnya hingga menuju klimaks mampu menghasilkan ritme yang semakin naik. Sayangnya, hingga credit title bergulir saya tidak mendapatkan itu dalam Maleficent. Tidak ada konflik yang begitu kuat, bahkan banyak adegan yang sedikit dipaksakan hingga akhirnya menjadi menganggu dan memaksa penonton mengerinyitkan dahi. Dialog antar karakter, terlebih trio peri kecil yang menjadi tumpuan humor dan mempunyai potensi membuat penonton menyunggingkan bibir pun dikemas dengan kurang tajam, alhasil tujuannya pun tak bisa tersampaikan dengan baik. Mungkin ini memanglah sebuah film yang ditujukan bagi anak-anak, karena saya tak yakin penonton usia remaja bisa tersenyum puas ketika melengang keluar pintu teater. Dan sebenarnya saya enggan untuk menyebutkan twist dalam sebuah review saya, tapi saya tak tahan untuk mengatakan bahwa twist yang hadir dalam Maleficent ini sungguh buruk, bahkan mungkin merupakan sebuah lelucon.


3 comments:

  1. belum nonton, di sini ga ada cinema 21 huhu

    ReplyDelete
  2. Well... kena deh twistnya hahaha

    anyway,
    boleh tukeran link, bro?

    saya di sinekdoks.wordpress.com

    Much respect.

    ReplyDelete