May 23, 2014

[Review] X-Men: Days of Future Past (2014)


Finally, penantian panjang pun terbayar juga. Salah satu film franchise adaptasi dari komik Marvel yang mempunyai banyak fanbase ini kembali lagi. X-Men pertama kali dibawa ke layar lebar oleh sang sineas Bryan Singer pada tahun 2000 kemudian berlanjut sekuelnya X2 pada tahun 2003. Film yang bercerita tentang para mutan ini sempat mengalami keterpurukan pada X-Men: The Last Stand dan X-Men Origins: Wolverine, dimana tidak lagi Bryan Singer yang duduk di bangku penyutradaraannya. Hingga pada tahun 2011, X-Men yang bertajuk First Class kembali mendapatkan masa jayanya dengan arahan sutradara baru, Matthew Vaughn. Untuk mempertahankan ritme kesuksesannya, The Wolverine pada tahun 2013 dibuat demi menjadi jembatan penghubung menuju franchise teranyarnya saat ini, Days of Future Past yang tak tanggung-tanggung menghadirkan sang sesepuh, Bryan Singer untuk kembali menahkodainya. Tentu saja hal ini menjadi kabar gembira bagi para fans, apalagi di Days of Future Past ini sang sineas semacam mengadakan acara reuni dengan mempertemukan karakter X-Men generasi First Class dengan generasi The Last Stand. Sound's like hilarious, isn'it?

But first, sebelum saya bercerita lebih lanjut tentang hingar bingar Days of Future Past, let me tell you about the sypnosis. Days of Future Past membawa kita ke masa depan dimana kaum mutan mengalami masa kegelapan, dimana kaum mutan tengah diburu oleh pasukan robot bernama Sentinel. Beberapa mutan yang berhasil survive seperti Bishop (Omar Sy), Sunspot (Adan Canto), Warpath (Boooboo Stewart), Blink (Bingbing Fan), Colossus (Daniel Cudmore), Iceman (Shawn Ashmore), dan Kitty Pride (Ellen Page) bertemu dengan tim mutan dari Professor X (Patrick Stewart) yg terdiri dari Magneto (Ian McKellen), Wolverine (Hugh Jackman), dan Storm (Halle Berry). Demi menyelamatkan kaum mutan yg saat ini tengah berada di ambang kepunahan, Wolverine harus dikirim ke masa lalu guna mengubah sejarah. Perjalanan mutan bercakar adamantium itu pun tentu saja tak mudah. Wolvi harus meyakinkan Charles Xavier muda (James McAvoy) yang saat itu tengah mengalami depresi. Bersama dengan Beast (Nicholas Hoult), Quicksilver (Evan Peters), dan Erik Lensherr muda (Michael Fassbender) mereka siap menghentikan Mystique (Jennifer Lawrence) yang ternyata menjadi awal mula Sentinel semakin kuat.























I always thought, bukanlah menjadi pekerjaan yang mudah bagi Bryan Singer untuk menghubungkan benang merah antara generasi X-Men yang berbeda. But, he did so right. SO RIGHT, of course! Dengan script borongan garapan Simon Kinberg, Jane Goldman, dan tentu saja Matthew Vaughn, sang sineas mengeksekusinya dengan sangat rapi, bahkan juga begitu memperhatikan hal-hal kecil yang teramat detail. Segala pernyataan dihidangkan secara jelas untuk menyawab segala pertanyaan penonton; "Kenapa bisa begini?" "Kenapa bisa begitu?". Menontonnya pun terasa begitu menyenangkan dan mengalir begitu saja, durasi sepanjang 2 jam lebih tak terasa sama sekali. Tentu saja Days of Future Past tetaplah film X-Men, yang sudah wajib hukumnya untuk menyertakan adegan penuh sarat aksi. Sesuai dengan spesialis kekuatan para mutan, adegan dimana mereka harus bertarung adalah sebenar-benarnya memanjakan mata. Singer tahu betul bahwa adegan aksi melibatkan mutan tersebut harus disajikan dengan mengalami perkembangan dari seri X-Men sebelumnya, dan yah he did so right again. Did you remember when the magneto was controlling the bridge in X-Men: The Last Stand? Saya bisa memastikan itu tak ada apa-apanya dibandingkan apa yang Magneto lakukan di Days of Future Past ini. Yep, katakanlah saya kekanak-kanakan tapi memang betul saya berteriak girang kala menontonnya. 

Sebenarnya apa yang paling menonjol dari Days of Future Past, ini bukanlah lagi tentang film X-Men dimana Wolverine menjadi sosok sentral. Memang benar dia masih berperan besar di sini tapi itu memang karena sudah sesuai dengan porsinya sehingga tidak menutupi karakter lain untuk mengalami perkembangan karakterisasi. Setiap karakter mutan mampu meyakinkan dirinya untuk mudah disukai penonton sehingga baik dari mereka yang mempunyai peran dengan porsi yang sedikit ataupun besar, it just doesn't matter. Lihat saja Blink dan Quicksilver yang minim aksi tapi masih tetap begitu memikat. Bahkan pesta kemeriahan Days of Future Past juga turut dimeriahkan oleh cameo karakter mutan dari seri X-Men sebelumnya yang sekaligus mengobati kerinduan dari fans. Beruntung Days of Future Past juga didukung dengan visual yang bagus, tatanan busana yang menarik, hingga rentetan dialog humoris yang memancing tawa hingga dialog karakterisasi yang luar biasa sehingga semakin sulit bagi saya untuk tidak menyempatkan kedua kalinya menonton lagi. Saya memang bukanlah pengikut X-Men dari komik, tapi saya bisa merasakan betul betapa orgasme bahagianya mereka yang memang benar fans X-Men dari komiknya menyaksikan Days of Future Past ini. At least, I think it is the best summer movies so far in this year. Go to see it and happy movie-orgasm, dude!

Note: Pssst...there is only one after credit scenes on Days of Future Past at the very end of the credits roll.



8 comments:

  1. plot holenya banyak woi, gue nonton dari awal sampe sekarang. Coba lo jelasin hal berikut baru lo kasih rating hi-5:

    1. Di The Wolverine, adamantiumnya dipotong sama yashida dan clawnya balik kayak dia waktu kecil yang clawnya bone. Kenapa pas di X-men days of future past clawnya adamantium lagi?
    2. Kenapa professor x hidup lagi padahal di the last stand dia mati? kenapa scott gabisa hidup?
    3. Kenapa kitty yang biasanya cuma bisa nembus tembok, sekarang punya kekuatan balikin orang ke masa lalu?

    dan kenapa yang lainnya.
    Kalo objektif gue menilai film ini biasa aja, bahkan agak ngeselin walaupun storynya bagus karena plot holenya banyak. Masa harus baca komiknya dulu?
    Coba bandingin dengan harry potter, kita ga harus baca bukunya untuk paham kan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo dorryx, tentu salah satu tujuan menonton sebuah film adalah mencari sebuah hiburan, bukan?. Saya pribadi adalah salah satunya. Apalagi ini adalah sebuah film summer blockbuster yang bagi saya sendiri sepertinya terlalu buang waktu jika terlalu memperhatikan plot-hole dengan film X-men sebelumnya. Toh, film-film X-Men sebelumnya tak hanya dipegang oleh satu sutradara saja yang mana tentunya bakal banyak sekali hal-hal yang rancu. Memang benar jika seperti yang dorryx sebutkan 3 poin di atas hanyalah salah satu dari sekian banyak plot hole. Jadi saya hanya bisa sekiranya menjelaskan apa yang saya tahu (saya sendiri juga bukan pembaca komiknya).

      1. Kembalinya adamantium dalam tubuh Wolverine tidak ditunjukkan pada Days of Future Past saja. Bisa dilihat pada mid credit scene pada The Wolverine, Magneto bisa mengontrol Wolverine ketika dia menghunus cakarnya. Saya juga tak tahu bagaimana penjelasannya bisa seperti itu,
      2. Apakah Dorryx sudah menonton after credit scene pada X-Men The Last Stand? Pada bagian itu ditunjukkan bahwa Professor X kembali hidup.
      3. Sepanjang yang saya tahu selama menonton film X-Men, banyak mutan dengan kemampuan lebih dari satu. Contohnya yang paling mudah diingat adalah Wolverine, selain dia bisa mengeluarkan cakarnya, dia juga bisa menyembuhkan diri dengan cepat. Mungkin saja hal itu juga berlaku pada Kitty Pride. Dan kenapa dia baru menunjukkan kemampuan keduanya pada Days of Future Past sedangkan sebelumnya tidak? Well, mungkin kalo dorryx adalah orang yang sangat selo, bisa langsung berangkat ke Amerika untuk tanya langsung pada sang sineas Bryan Singer.

      Setidaknya itulah yang mungkin bisa saya bagi pada dorryx. Dan yang perlu diingat, saya bukanlah seorang profesional yang bisa menilai sebuah film dengan obyektif. Saya hanyalah amatiran yang masih banyak kekurangan disana-sini dalam mereview sebuah film. Jadi intinya jika ada sebuah film yang sangat bisa memuaskan saya, ya saya beri bintang 5. Thank you dorryx. :)

      Delete
    2. Saya bukan fans marvell comics sejati, jadi pada saat menonton future past saya cukup bingung dengan kehadiran mutan2 baru seperti blink dll. tapi saya mengikuti semua sequel X-men. Tapi setelah membaca analisa bro widyo saya jadi paham. Good job :)

      Delete
    3. Haduuh sering ga nonton credit nih saya

      Delete
    4. nambahin pertanyaan no1 itu magneto bisa kendaliin si logan itu bukan karna ada adamantium di tubuhnya tapi karna magneto yang tancepin besi beton ditubuhnya si logan makanya bisa dikontrol lalu dia dibuang ke laut kan? dan di laut itu di temukan lagi sama Maj. Bill Stryker kan? kemudian taulah kelanjutannya kan? wkwk di X-Men: Apocalypse si logan dilepasin lagi dari kurungannya Maj. Bill Stryker sama Jean muda, Cyclops muda itu. Nah nyambungkan?

      Delete
  2. hmmmm kayaknya saya lebih suka melihat para pemainnya yg habis habisan, paling ok si hugh jackman memang kalo saya bilang, soalnya usia beliau sudah bolehlah dibilang sangat dewasa hahahaha tapi its ok demi perannya di film ini seni mengolah tubuh nya itu yg luar biasa, disiplin demi suatu pekerjaan, jadi kalo menonton film saya selalu membaca cerita para pemerannya bgmn usaha dia utk memerankan suatu karakter. jadi yaaa film merupakan suatu kerja tim, jadi sy melihat nya lbh kepada team secara utuh bukan cuma hasil nya bagaimana, hasil yg baik tentu ada suatu perencanaan dan kerja team yg baik juga

    ReplyDelete
  3. X-men Appocolypse bakal lebih badass!! Bener2 penasaran sama clip after creditnya Xmen days of future past ini

    ReplyDelete
  4. Setuju banget. film x-men paling gokil, meski secara cerita menurut saya lebih keren first class

    ReplyDelete