October 09, 2013

[Review] Prisoners (2013)


Kehilangan memang sesuatu yang menyakitkan. Bahkan saya yakin hampir semua orang tidak suka dengan perihal kehilangan. Tak ada mimpi buruk yang lebih buruk bagi sepasang orang tua yang kehilangan anaknya. Hal itulah yang menjadi premis dalam Prisoners, sebuah film arahan sang sineas asal Kanada, Denis Villeneuve yang juga berhasil mengantarkan film sebelumnya, Incendies (2010) masuk dalam nominasi Oscar kategori Best Foreign Language. Sayangnya kalah oleh In a Better World-nya Denmark. Memasang dua wajah utama aktor dengan nama besar, Hugh Jackman dan Jake Gyllenhaal serta deretan nama-nama besar lainnya seperti Viola Davis, Terrence Howard, Maria Bello, Melissa Leo, Paul Dano yang turut menghiasi poster filmnya mungkin akan menjadi daya tarik yang kuat. Apalagi saya belom pernah sebelumnya melihat aktor yang kerap sekali dikenal sebagai Wolverine ini memerankan karakter seorang ayah. Yah, menjadi sebuah kesenangan sendiri bagi fans yang ingin melihat Hugh Jackman tampil berbeda.

October 06, 2013

[Review] Gravity (2013)


Musim gugur telah tiba, and you know what? Katakan selamat datang kepada film-film nominasi Oscar yang akan menghiasi layar lebar hingga akhir tahun. Selain Harry Potter: The Prisoner of Azkaban saya belom pernah menonton karya Alfonso Cuaron, bahkan Children of Men yang begitu fenomenal saya belom sempat. Sutradara yang belakangan ini nyaris tak terdengar kabarnya, ternyata menghabiskan sekitar empat setengah tahun untuk menggarap proyek Gravity ini, dua setengah tahunnya untuk setting-nya saja. Dan tentu saja, dengan rentang waktu yang tidak sebentar, juga bongkar pasang jajaran cast berkali-kali, eksekusinya begitu memuaskan dan memang pantas untuk dinominasikan dalam ajang piala botak emas. Siapa sangka, dengan ide dan setting sederhana, pun dengan durasi yang bergulir sekitar satu setengah jam, dan juga hanya menghadirkan dua pemeran utama, bisa menjadi karya yang begitu emosional, indah, dan brilliant. Sepertinya untuk menulis review ini, saya harus berhati-hati agar tidak terlalu meninggikan. Intinya, sebagai pembuka film-film nominasi Oscar, Gravity bisa tampil dengan membusungkan dada.

September 30, 2013

[Reviews] Underworld, Underworld: Evolution, Underworld: Rise of The Lycans, Underworld: Awakening

Jauh, jauh sebelum perselisihan antara Edward Cullen dengan Jacob Black hanya gara-gara merebutkan hati sosok cantik Elizabeth Swan, di Underworld sudah terjadi pertumpahan darah antar Vampir dan Werewolf. Di Underworld, Werewolf sering disebut sebagai Lycans dan juga ada spesies gabungan antara Vampir dan Lycans yang tentu saja lebih kuat dari keduanya, mereka menyebutnya Hybrid. Sosok-sosok monster di Underworld disajikan begitu kelam, tak seperti Vampir yang kelihatannya senang bersolek di Twilight, bangsa Vampir lihai menggunakan senjata dan siap mati untuk bertarung dengan musuh besarnya, Lycans. Pun dengan Lycans, tak seperti sekumpulan manusia yang senang bertelanjang dada di Twilight, bangsa Lycans terlihat sangat mengerikan disini, sosok monster haus darah yang siap mencabik-cabik siapa saja yang menghalangi. Di postingan kali ini saya akan membahas empat film dari franchise Underworld. Jadi terserah kamu, lebih memilih kubu Twilight atau kubu Underworld.

Underworld (2003)


Perang besar antar Vampir dan Lycans sudah terjadi sejak berabad-abad yang lalu dan masih berlangsung hingga saat ini. Pemimpin bangsa Lycans bernama Lucian diketahui sudah tewas karena dibunuh oleh Vampir bernama Kraven yang saat ini berkuasa. Kemudian ada Vampir wanita bernama Selene yang tengah menyelidiki beberapa Lycan yang sedang membututi seorang manusia bernama Michael Corvin. Di tengah penyelidikan, Selene menemukan fakta-fakta mengejutkan bahwa Lucian masih hidup dan ada pengkhianat di dalam bangsa Vampir. Belakangan juga diketahui bahwa Lucian mengincar Michael Corvin karena dalam darahnya mengalir sesuatu yang tak biasa. Sesuai dengan judulnya, selanjutnya Underworld akan berjalan dengan nuansa yang begitu kelam. Film pertama ini cukup berhasil untuk membangun kesan pertama. Kita dihadapkan pada pertarungan epik antar dua legenda monster, meskipun ya dibandingkan saat ini tak ada yang istimewa untuk adegan aksinya. Daya tarik Underworld terlihat pada sosok Kate Beckinsale yang sangat menyatu dengan Selene. Bagaimana sosok Vampir wanita yang tetap kelihatan anggun meskipun sering terkena cipratan darah. Hanya saja karakter yang lain tak bisa berkembang dan plot yang diusung kelihatan terburu-buru demi menyelesaikan semua permasalahan yang sudah terjadi. Ada bagian disana-sini yang cukup mengganjal dan terlihat dipaksakan, durasi yang panjang dan konflik yang meluas membuat penonton sedikit terengah-engah di pertengahan film. 

September 26, 2013

[Review] Insidious: Chapter 2 (2013)


Saya termasuk orang baru kalo berbicara mengenai film horror. Saya sering menekankan pada diri saya sendiri bahwa sebenarnya saya itu takut kalo diajak menonton film horror. Alasan saya mengiyakan ajakan itu sebenarnya terdorong dari rasa penasaran. Ya betul, penasaran saya yang teramat besar seringkali mengalahkan rasa ketakutan saya. Sepanjang tahun 2013 ini bisa dihitung film-film horror yang saya tonton, sebut itu Sinister (2012), Evil Dead (2013), dan The Conjuring (2013). Jadi Insidious: Chapter 2 bisa menambah list film horror yang saya tonton tahun 2013. Bagi saya, Insidious merupakan film horror dengan konsep unik dan ditutup dengan ending epic yang masih menyisakan tanda tanya besar, sudah cukup untuk tidak dilanjutkan sekuelnya. Insidious: Chapter 2 adalah salah satu dari sekian film Hollywood yang dibuat sekuelnya demi mengulangi kesuksesan film pertamanya, atau bahasa kasarnya untuk mengeruk keuntungan semata. Kali ini selain duduk di kursi sutradara, James Wan juga turut andil dalam penulisan naskah bersama squad film pertamanya, Leigh Whannell yang berhasil membuat cerita menarik di Insidious.

September 16, 2013

[Review] Before Midnight (2013)


Kamu pernah merasa jatuh cinta dengan film? Panggil saya lebay, saya pernah, bahkan ini kali ketiganya. Saya pernah menulis sedikit tentang Before Midnight terkait dengan dua film prekuelnya di Before Midnight Masuk Daftar Wajib Tonton. Dua film pendahulunya yang bertajuk Before Sunrise (1995) dan Before Sunset (2004) sukses membuat saya mengagung-agungkan setinggi langit. Trilogi film ini bukan film semua orang, maksud saya tidak semua orang suka dan bisa menikmatinya. Selain masalah selera, film drama romantis ini mempunyai formula yang sedikit berbeda dari kebanyakan film dengan genre serupa. Saya harus angkat topi kepada sang sineas di baliknya, Richard Linklater yang telah memperkenalkan pasangan paling romantis, Jesse dan Celine melalui trilogi Before-nya. Kali ini, pasangan di balik karakter Jesse dan Celine, yakni Ethan Hawke dan Julie Delphy turut andil dalam penulisan naskah. Wow! Tentu saja hal ini merupakan kabar gembira bagi fans yang sudah menanti selama 9 tahun sejak Before Sunset.