January 14, 2013

#30LoveMovies

Valentine sebulan lagi.

Ada caranya sendiri merayakan Valentine. Salah satunya dengan melihat kembali koleksi film-film romance yg sepertinya menarik untuk ditonton ulang.

Selama dekade ini, tak terhitung banyaknya film-film romantis yg mungkin berhasil membuat penonton berkata,"Ih film-nya aku banget!"

Nah, kebetulan saya dan @abe_andibayu suka banget nonton film. So, kami mau share film-film 'about love' selama 30 hari ke depan.

Film yang kami share adalah yg menurut kami bagus secara kualitas dan menghibur. Film yg dipilih tidak hanya Hollywood tetapi dari Asia juga.

Film-film yg kami pilih hanya yg sudah pernah kami tonton. Jadi kalo misal ada film yg bagus tetapi gak masuk list berarti kami belum sempet menonton-nya.

Berhubung kami berdua hanya penikmat film secara amatir jadi review-nya cukup simple dan sederhana.

Jadi mulai besok saya dan @abe_andibayu secara selang-seling akan ngetwit satu hari satu film dengan tagar #30LoveMovies

Format twit #30LoveMovies adalah 1) Sinopsis 2) Short Review 3) Memorable Scene 4) Best Quote

Yaaa siapa tahu film-film ini bisa jadi referensi kamubuat merayakan Valentine bersama pacar, sahabat, temen, atau keluarga. #30LoveMovies

Untuk pengen tahu list-list film apa saja yang termasuk di #30LoveMovies ikutin timeline-nya @hawinhawhaw dan @abe_andibayu

January 09, 2013

[Review] Dari Merem Ke Melek


Buku karangan Ernest Prakasa. Tapi tunggu, siapa Ernest Prakasa? Doi adalah orang Indonesia keturunan Cina yang udah luntur budaya Cina-nya. Cina murtad, kata orang. Doi sekarang kerjanya jadi stand up comedian. Doi keluar dari kerja kantoran dan jadi komika full-time sejak Agustus 2011. (kutipan pengantar buku tersebut). Ernest Prakasa juga merupakan komika juara ketiga Stand Up Kompas TV season pertama. Doi juga pernah menyelenggarakan tour stand up comedy untuk pertama kali-nya di 11 kota. Tour-nya bernama "Merem Melek" yang mempunyai filosofi, meskipun doi merem (mata sipit) tetapi doi ingin membuka mata temen-temen tentang seluk beluk kehidupan.

Nah setelah penutup tour doi kemaren di Jakarta. Doi menerbitkan buku yang berjudul mirip dengan tour-nya "Dari Merem Ke Melek". Untuk saya sendiri yang memang sudah pernah manggung berulang kali karena job stand up comedian lokal, saya sangat puas membaca buku seharga Rp 75.000,- ini. Oit, jangan berburuk sangka dulu dengan mengatakan mahal soalnya dengan harga segitu kamu juga mendapat bonus DVD Stand Up Comedy dari Ernest Prakasa yang diselenggarakan di Jakarta. Durasi DVD-nya ketika dia perform juga sekitar satu jam.

Di dalam buku tersebut terdapat selipan bit-bit atau joke-joke dari Ernest Prakasa sendiri. Gaya penulisan doi juga rapi, pertama doi mengajak kita untuk dikenalkan kepada Stand Up Comedy kemudian bagaimana kita mencari materi joke serta bagaimana untuk membawakannya di atas panggung. Doi juga mengajarkan kita apa-apa yang tidak boleh dilakukan sebagai Stand up Comedian. Tidak hanya itu, doi juga bercerita tentang pengalaman menjadi Stand Up Comedian dan Merem Melek Tour. Jadi kita bisa paham betul apa itu Stand Up Comedy sampai bagaimana perkembangannya di Indonesia ini.

Mungkin buat kalian yang mencoba untuk menjadi Stand Up Comedian, buku ini cocok untuk dibaca. Pun sekalian melihat gaya Ernest Prakarsa waktu dipanggung di DVD-nya. Viva la Komtung!

January 07, 2013

7 Januari 2013


7 JANUARI 2013. Sebelumnya saya menulis tentang dua dari saya yang aneh bagi seorang pria dan salah satunya adalah asap rokok. Memang dulu saya sempat setahun lebih tidak merokok, entah apa yang bisa membuat saya bertahan. Bahkan saya juga sempat benci dengan asap rokok. Saya selalu memarahi teman saya yang meniupkan asap rokok di depan saya. Hingga dibilang saya orang yang cupu karena tidak mau merokok.

Namun belakangan ini ketika saya dihadapkan di lingkungan temen-temen yang juga merokok. Saya tergiur untuk mencicipi rokok lagi. Daaaaan akhirnya saya merokok lagiii!!! Padahal sudah setahun lebih saya bisa berhenti merokok tapi memang faktor lingkungan itu sangat sangat berpengaruh. Saya sudah membeli dua pak rokok dengan uang saya sendiri malah (sebenarnya sih lebih sering minta). Duh, padahal awal niat gak merokok dulu karena disebabkan faktor uang :|

Jadi gini, setelah menghabiskan batang terakhir dari bungkus rokok yang saya beli hari ini tanggal 7 Januari 2013 saya berniat untuk berhenti merokok lagi. Buat temen-temen yang berusaha buat berhenti merokok, klasik memang tapi gak ada yang bisa ngalahin NIAT. Dan bisa bertahan dari godaan lingkungan adalah keberhasilan luar biasa yang bisa kamu capai secara pribadi. Mari hidup sehat!!!

January 06, 2013

Ndoro Donker


Suatu liburan saya beserta keluarga mempunyai kesempatan untuk menikmatinya. Saya dan keluarga bertempat tinggal di Sukoharjo maka kami memilih untuk bepergian ke kebun teh Desa Kemuning. Perjalanan hanya berkisar satu jam dari Solo tapi setelah sampai di tempatnya semua terbayarkan. Pemandangan yang indah, udara yang sejuk, dan tidak akan cukup untuk mengutarakan semuanya disini. Tujuan utama kami untuk makan siang adalah Ndoro Donker. Sekilas untuk Ndoro Donker adalah Rumah Teh yang berdiri di tengah perkebunan teh yang asri. Didesain dengan gaya Belanda, tempat ini terbagi dua area untuk menikmati hidangan yaitu area outdoor dan indoor. Kami tentu saja memilih area outdoor karena sekaligus bisa makan sambil menikmati pemandangan kebun teh. Saya termasuk tipe orang yang cepat lapar, tanpa basa-basi saya langsung memesan beberapa makanan.

  

 
Tampilan Menu

Kentang Ongloc Donker. Kentang yang dipotong kecil kemudian disiram bumbu kuning dan ditaburi parutan keju. Saya tidak begitu tahu bumbu kuning ini terbuat dari apa yang bisa saya rasakan adalah bau-nya yang begitu menggoda untuk segera disantap. Namun apa yang ada di lidah saya ketika merasakannya, terasa kentang dan keju bukanlah jodoh yang cocok. Rasanya tidak jauh beda dengan kentang biasa pada umumnya malah lebih terasa eneg.

Ketela Lumur Madu. Ketika saya merasakannya saya langsung ketagihan untuk mencomot lagi. Saya pikir ketela yang dilumuri madu dan ditaburi wijen ini tidak begitu cocok seperti kentang ongloc donker tadi namun ternyata bisa menjadi kombinasi yang luar biasa lezatnya. Manis-nya begitu pas dan jika saya tidak ingat bahwa hidangan utama belum datang mungkin saya bisa menghabiskan dua piring.

Pisang Panggang. Saya tersenyum melihat pisang panggang ini, bukan apa-apa karena tampilannya tidak jauh beda dengan pisang owol Shi Jack. Begitupun juga rasanya, hanya saja disini pembuatannya lebih serius.

Ubi Jalak Tuwo. Mungkin yang membedakan dengan gorengan di pinggir jalan adalah disertakannya saus sambal. Ada cita rasa yang sedikit nikmat ketika dipadukan dengan saus sambal tersebut, untuk selebihnya tidak jauh beda dengan ubi-ubi yang dijual di pinggir jalan.

Iga Bakar. Wohoooo, makanan utama sudah tiba. Perut saya yang sebelumnya sudah terisi berbagai cemilan-cemilan tadi mendadak kosong lagi melihat Iga Bakar ini. Dari tampilan luar begitu menarik untuk segera dimakan. Nasi-nya ditata cantik dengan bentuk hati dan ditaburi bawang goreng. Tidak menyesal mengeluarkan Rp. 30.000,- untuk iga bakar ini. Dagingnya mudah disobek untuk dinikmati kecil-kecil, bumbu kacangnya juga terasa banget. Sambal-nya yang tidak begitu pedas merupakan pasangan yang cocok bagi iga bakar ini. Mungkin hanya satu keluhan klasik saya, nasinya kurang banyak :p

Teh Hijau. Kami memesan teko teh banyak sekali, takut jika kurang. Aroma-nya tidak begitu terasa. Ketika saya menyeduh-nya ada sedikit rasa kopi di dalamnya. Namun cukup untuk melegakan tenggorokan.

Oiya, ketika selesai menikmati hidangan di Ndoro Dongker jangan langsung pulang, ambillah kesempatan untuk berfoto-foto di perkebunan teh-nya. Sungguh rumah makan yang sangat strategis.







January 05, 2013

[Review] DEAD MINE


Director : Steven Sheil
Staring : Ario Bayu, Joe Taslim, Miki Mizuno, Mike Lewis

"Saya pilih miskin, tapi hidup." - Captain Tino Prawa

Sempat melihat trailer-nya di YouTube dan ada sedikit ketertarikan untuk menonton film ini. Disutradarai oleh seorang bule dan melihat sepertinya ini bukan film murah minat untuk menonton semakin bertambah. Bersetting di Indonesia tepatnya di Sulawesi, plot awal menampilkan seorang tentara yang ingin buang air kencing kemudian menemukan sebuah gua dan dapat ditebak dia mendapat sesuatu hal yang tidak diinginkan dalam gua tersebut. Cerita berpindah dengan penampilan sekelompok pemburu harta karun yaitu Price (Les Loveday) yang membiayai ekspedisi harta karun ini, lalu pacarnya Su-Ling (Carmen Soo), seorang mantan tentara Stanley (Sam Hazeldine), Rie (Miki Muzuno) seorang arkeolog, dan 4 tentara bayaran, Kapten Tino Prawa (Ario Bayu), Djoko (Joe Taslim), Ario (Mike Lewis), dan Sersan Papa Ular (Bang Tigor). Dengan kehadiran Bang Tigor saya pikir akan mendapat porsi komedi yang cukup oleh tingkah-nya namun apa yang saya dapat adalah tidak sama sekali. Segelintir komedi terasa dipaksakan dalam film ini.

Kemudian ketika diserang oleh kawanan bajak laut. Tim pemburu harta karun ini terpaksa masuk ke dalam sebuah tambang dan terjebak disana. Tidak ada cara lain selain terus maju lebih ke dalam tambang namun sesuatu yang mengerikan menunggu mereka di dalam tambang. Tunggu, sesuatu mengerikan? Iya pertama kali saya pikir begitu, karena setelah melihat trailer-nya saya pikir bakal ada zombie khas Indonesia. Saya tidak sabar ingin melihatnya apalagi ketika tim pemburu harta karun ini melanjutkan perjalanan ke dalam tambang terdengar scene klasik nan menyeramkan yaitu tiba-tiba listrik di dalam tambang menyala sendiri dan memperdengarkan lagu nasional Jepang. Disini mulai ketertarikan saya untuk semakin penasaran apa yang ada lebih jauh dalam tambang, tetapi apa yang terjadi setelah itu justru plot yang sangat lambat. Benar-benar lambat, ya meskipun dilm dengan plot yang lambat belum tentu jelek namun ini begitu membosankan tanpa bumbu komedi yang menyegarkan. Maka kita langsung lanjut ke bagian zombie yang menyerang. Ada zombie yang menggeret Ario (Mike Lewis) ke dalam tanah kemudian dicabik-cabik tanpa perasaan itu mebuat saya membayangkan zombie yang sangar, namun apa yang saya dapat  di film ini adalah zombie yang cemen seperti gelandangan tepatnya. Tidak ada greget sedikitpun, apalagi di film ini menampilkan dua jenis zombie, yang kedua adalah zombie berkostum samurai. Saya bisa memaafkan jika zombie samurai ini beringas namun ternyata sama saja, zombie samurai terlalu pemalu untuk membunuh orang. Saya tahu ini bersetting di Indonesia tetapi budaya orang Indonesia kenapa menurun ke zombie-nya!!!

Menjelang akhir pun tidak ada ketegangan yang bisa dirasakan. Bahkan ketika film sudah selesai saya sempat bengong di dalam bioskop mencoba menelusuri dari awal sampai akhir film bagian mana yang layak untuk dinikmati. Plot yang lambat, skrip yang tanggung, sedikit nilai plus di scoring-nya. Ya film ini memang memberikan cita rasa mahkluk yang baru di Indonesia namun apa yang disampaikan di film ini kurang berhasil membuat penonton menikmati. Setidaknya film horor ini tidak menyuguhkan paha dan susu seperti film-film horor Indonesia lainnya.