March 09, 2014

[Review] 300: Rise of an Empire (2014)


Sudah sekitar delapan tahun silam sejak film pertamanya, 300 (2006) yang dinahkodai Zack Snyder merajai box office. Bahkan quote "THIS IS SPARTA!!!" milik seorang Raja Leonidas pun berhasil melekat di benak penonton hingga sekarang. Seakan ingin menambah pundi-pundi emas, installment keduanya yang kali ini dinahkodai oleh seorang sineas Noam Murro yang namanya sendiri sepertinya kurang dikenal dalam kancah perfilman Hollywood. Installment yang bertajuk Rise of an Empire ini sendiri pun diadaptasi dari novel graphic karya Frank Miller yang awalnya berjudul Xerxes kemudian dirubah menjadi Battle of Artemisia yang akhirnya berubah lagi menjadi sekarang ini, sebenarnya belum diterbitkan tapi sudah rilis dalam layar lebar terlebih dulu. Memang sebuah pertaruhan yang besar apalagi kita paham betul sebenarnya akhir dari 300 sudah begitu jelas. 300 yang berhasil melambungkan nama Zack Snyder kini hanya menjabat di kursi produser dikarenakan sibuknya menyutradari proyek Man of Steel.

March 06, 2014

[Review] The Right One (2014)


Bulan Februari lalu, dikenal kebanyakan orang dengan bulan penuh cinta. Berbagai pembuat film menempatkan film-film romantis andalannya dalam bulan tersebut. Tak ketinggalan dengan sineas Stephen Odang, yang mengunggulkan film romantis besutannya, The Right One dalam salah satu jajaran film yang turut menghiasi layar lebar di Indonesia. Jika menyaksikan trailernya, kelihatan menarik sekali karena bersetting di pulau Dewata, yang notabene sangat mendukung sekali suasananya untuk sebuah film-film romantis. Apalagi daya ketertarikan saya ingin menonton film ini menjadi berlebih ketika saya tak sengaja membaca pernyataan di sosial media bahwa The Right One tidak akan tayang di stasiun televisi dan YouTube. Tentu hal ini membuat saya bertanya-tanya besar tentang apa yang sebenarnya menjadi begitu istimewa dalam The Right One hingga tak ada niat sedikitpun bagi pembuat film untuk menayangkannya di media lain.

March 03, 2014

[Review] Dallas Buyers Club (2013)



Dallas Buyers Club masuk dalam empat nominasi dalam ajang penghargaan Oscar tahun ini. Dalam kategori; Best Makeup and Hairstyling, Best Supporting Actor, Best Actor, dan yang paling utama, Best Picture. Meskipun tak terlihat diunggulkan dibandingkan nominasi lainnya, jangan salah Dallas Buyers Club bisa jadi merupakan sebuah film yang begitu manis dengan menyinggung penyakit yang tak diharapkan semua orang memilikinya, AIDS. Di bawah nahkoda sineas asal Canada Jean-Marc Vallee, yang namanya jarang terdengar di insan perfilman Hollywood dan memajang aktor utamanya dalam materi posternya yang terlihat sederhana, Matthew McConaughey yang juga bermain dalam film yang merupakan lawan berat di kategori Best Picture, yakni The Wolf of Wall Street. Akankah bakal ada kejutan dalam film ini yang mampu membuat para juri Oscar mempertimbangkan penilaiannya guna menyabet piala bergengsi tersebut? Mari kita simak.

February 24, 2014

[Review] The Lego Movie (2014)


Sepertinya perusahaan mainan asal Denmark ini berniat untuk semakin memperkokoh kerajaannya. Lego yang dulu kita kenal sebagai mainan dengan banyak balok-balok kecil dengan berbagai bentuk unik yang menuntut kreativitas dan imajinasi untuk membangun fantasi yang kita miliki ini mencoba peruntungan di dunia layar lebar. Mungkin akan semakin terasa menyenangkan bagi mereka yang sudah menggeluti permainan ini sejak lama, yah karena bisa melihat dunia fantasi mereka sekarang hidup dan bergerak melalui visual yang nyata. Hadirnya film tentang mainan bongkar-pasang ini tentu saja tak lepas banyak komentar negatif dari berbagai pihak. Mengingat The Lego Movie bukanlah hal baru mengenai film yang berangkat dari adaptasi mainan, Sebelumnya kita mengenal G.I Joe dan Barbie yang yaaah... tak begitu memorable. Lantas, akankah mainan yang justru terlihat kaku dari dua sebelumnya bakal cukup menghibur? Atau malah kalo beruntung menjadi sajian yang sanggup melebihi ekspetasi penonton?

February 18, 2014

[Review] RoboCop (2014)


"Dead or alive, you're coming with me!" - Detective Alex Murphy

Nampak gagah bersenjatakan pistol dengan balutan besi berwarna hitam, RoboCop kembali bangun dari tidur panjangnya untuk memberantas kejahatan di Detroit. Sebelum menonton RoboCop versi 2014 ini saya bersikukuh untuk menyelesaikan triloginya terlebih dahulu dan yah hasilnya saya terpikat oleh RoboCop klasik versi 1987 dari film pertamanya. Lalu dua film sekuelnya? Sungguh buruk dan saya nyaris tak percaya kalo RoboCop 2 dan RoboCop 3 bukanlah film yang khusus ditujukan untuk penderita insomnia. Sang sineas Jose Padilha seakan ingin memperbaiki citra buruk Polisi Robot ini dengan menghadirkan RoboCop versi baru-nya. Entah bagaimana kamu menyebutnya sebagai remake atau reboot, yang pasti beberapa elemen tambahan dihadirkan disini dan juga yang paling nampak jelas adalah tampilan armor-nya. Akan tetapi, lagi-lagi akan menimbulkan banyak pertanyaan yang terbilang sederhana untuk remake/reboot RoboCop ini, "Apakah sudah perlu?"