Tiga tahun lalu, kita mengenal Kick-Ass sebagai superhero remaja yang sok-sokan. Tak perlu digigit laba-laba atau terkena radiasi untuk menjadi superhero, Kick-Ass hanya butuh kostum dan modal nekat untuk membasmi kejahatan. Diadaptasi dari komik karya Mark Millar berjudul sama, Matthew Vaughn mampu membuat Kick-Ass mendapat respon positif dari penonton. Kalo boleh jujur saya sih sebenernya agak sebel kalo sebuah film sekuel dari pendahulunya yang sudah sukses disutradari oleh sutradara yang berbeda. Bagi saya, ciri khas yang sepertinya sudah melekat di film pertamanya sedikit berkurang. Tapi mau gimana lagi, kali ini tongkat estafet penyutradaraan dipegang oleh Jeff Wadlow yang juga didapuk sebagai penulis naskahnya. Saya sebenarnya sedikit ragu untuk menonton Kick-Ass 2 di bioskop dan memilih untuk menunggu download-nya saja setelah membaca review-review dari beberapa rekan, tetapi sungguh daya magnet di film ini yang membuat saya teguh untuk tetap menontonnya. Daya magnet? Oh ya tentu saja artis dibalik topeng Hit-Girl. ^^
September 11, 2013
September 05, 2013
[Review] Jack Reacher (2012)
Kalo melihat judul dengan menggunakan nama orang, dalam hal ini Jack Reacher tentu saja hal yang terlintas di pikiran pertama kali adalah pasti film itu akan bercerita banyak tentang Jack Reacher. Tetapi siapakah Jack Reacher? Dia adalah karakter fiksi yang menjadi tokoh utama dalam 17 novel karya penulis asal Inggris, Lee Child. Sedangkan dalam film ini, diadaptasi dari novel ke-9 yang bertajuk One Shot (2005). Saya sendiri termasuk orang baru dalam novel-novel karya Lee Child, jadi jika kamu seperti saya tidak usah mengharapkan ekspetasi apa-apa, cukup duduk diam dan nikmati saja film-nya. Yang menarik disini adalah novel-novel yang diadaptasi bergenre misteri pembunuhan. Seperti Sherlock Holmes dong? Hmm...tidak salah bila dikatakan seperti itu, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Sepanjang film ini saya lihat, misteri yang diberikan tak serumit Sherlock Holmes. Hanya saja tetap menonjolkan karakter utamanya seperti Sherlock Holmes. Yap, mungkin Jack Reacher bisa menjadi referensi tontonan ketika kamu ingin mencoba film yang sedikit berbau misteri.
September 01, 2013
[Review] Elysium (2013)
Selain sebagai sarana hiburan, sebuah film juga berfungsi sebagai media penyampai pesan. Pesan yang tertuang dalam film biasanya bermacam-macam, seringkalinya lahir dari pemikiran sutradara, baik yang ia alami sendiri ataupun pandangannya terhadap suatu subjek. Persoalan politis adalah salah satu subjek yang sering dikritisi oleh pembuat film dalam filmnya. Neil Blomkamp adalah salah satu sutradara yang memilih melontarkan statement politisnya dengan kemasan yang menghibur sehingga tidak terlalu sulit diterima oleh penonton. Empat tahun silam, Blomkamp memulai debut penyutradaraannya melalui District 9, sebuah film yang mengkritisi politik apartheid di Afrika Selatan dalam balutan science fiction. Melalui film dengan bujet yang tidak terlalu tinggi tersebut, sang sineas mampu menyampaikan kritiknya dengan efekif sekaligus memberi sebuah hiburan yang bermutu bagi penonton. Kini, Neil Blomkamp hadir kembali dengan karya terbarunya, Elysium yang juga berisi tentang persoalan politis.
August 28, 2013
[Review] Seven (1995)
Bosan menonton film yang mendayu-dayu? Juga dengan film ringan yang begitu mudah dilupakan? Mungkin Seven adalah film yang tepat untuk mengisi kebosanan kamu. Film yang cukup membuat kita mengasah otak dan bebas untuk menerka-nerka endingnya. Sineas yang bertanggung jawab di balik film Seven adalah David Fincher. Menurut beberapa artikel yang saya baca, David Fincher sebelumnya tengah depresi karena gagal melanjutkan kesuksesan franchise Alien dengan membuat Alien 3. Bahkan dikabarkan Fincher nyaris putus asa untuk tidak mau membuat film lagi dalam waktu yang lama. Untung Fincher menerima tawaran proyek Seven ini, karena kelihatannya film ini membuka jalan yang cerah bagi Fincher untuk membuat film-film keren semacam Fight Club (1999), Zodiac (2007), The Curious Case of Benjamin Button (2008), The Social Network (2010), sampai The Girl with The Dragon Tattoo (2011).
August 27, 2013
[Review] Percy Jackson: Sea of Monsters (2013)
Butuh waktu tiga tahun untuk melanjutkan sekuel dari film pertamanya, Percy Jackson & The Olympians: The Lightning Thief dengan nahkoda penyutradaraan yang diambil alih oleh Thor Freudenthal - yang namanya kurang begitu dikenal dibandingkan Chris Columbus. Para fans pun pastinya berharap dengan masa produksi yang terbilang cukup, eksekusi film yang diadaptasi dari novel karya Rick Riordan ini akan bisa lebih memuaskan. Apalagi bagi mereka-mereka yang merupakan penikmat novelnya, sudah barang tentu ekspetasi mereka terlalu berlebihan. Saya sendiri termasuk salah satunya. Beban berat memang yang ditanggung oleh pembuat film yang diadaptasi dari novel fiksi fantasi remaja. Film ini pun saya yakin mengalami hal yang serupa, pertama, film seri sebelumnya The Lightning Thief kurang begitu sukses memulai langkah awal sebagai batu loncatan untuk kehadiran sekuelnya. Kedua, dengan alur cerita yang sangat padat dan kompleks dari novelnya, ketika di film pasti akan dipotong disana-sini demi mencukupi durasi.
Subscribe to:
Posts (Atom)




