April 05, 2013

Teater Sudo Ora Sudo


Selain film, menonton pertunjukkan teater juga merupakan kepuasan tersendiri bagi saya. Saya sangat suka suasana teater. Ada semacam kerinduan untuk sekali lagi tampil di panggung. Menyenangkan melihat karakter-karakter yang sedang berakting, meluapkan emosi, dan berpadu dengan iringan gamelan.

Teater Sudo Ora Sudo adalah sebuah pertunjukkan yang begitu menarik. 11 anak tuna rungu yang berbakat turut serta dalam mengambil peran. Adalah DVO (Deaf Volunteering Organization) dan GERKATIN (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) yang berada di balik layar pertunjukkan ini. Teater ini bercerita tentang seorang anak tuna rungu bernama Laras. Putra semata wayang dari pasangan ki Joko dan bu Joko. Ki Joko yang seorang lurah tidak bisa menerima keadaan seperti ini. Sampai-sampai ki Joko berpikir bahwa keadaan Laras yang tuna rungu tersebut dikarenakan guna-guna dari pesaing calon lurah tahun depan. Dipanggilnya dukun sakti untuk menyembuhkan Laras, namun tidak berhasil karena digagalkan oleh bu Joko. Ki Joko yang sangat geram ingin menampar wajah bu Joko namun dengan cepat Laras menggagalkannya dengan mendorong tubuh ki Joko sehingga terjatuh. Semakin marah, ki Joko sampai ingin mengangkat kursi dan melemparkannya ke arah Laras. Laras yang begitu ketakutan berlari meninggalkan rumah dan menuju rawa. Entah apa yang terjadi pada Laras.

March 31, 2013

[Review] G.I. Joe: Retaliation (2013)


"In the immortal words of Jay-Z : Whatever deity may guide my life, Dear Lord don't let me die tonight!" - Roadblock

Berdasarkan beberapa referensi yang saya dapat. Film G.I Joe: Retaliation dijadwalkan rilis pada 29 Juni 2012 tetapi muncul berita yang mengejutkan dan sangat mendadak karena diumumkan satu bulan sebelum tayang bahwa penayangannya diundur menjadi 29 Juni 2013. Banyak gosip yang beredar bahwa pihak Paramount Pictures ingin mengonversi ke 3D dan menambahkan adegan Channing Tatum. Tapi juga terdengar kabar bahwa sebenarnya pihak Paramount Pictures takut bersaing dengan "The Amazing Spiderman" yang tayang 3 Juli 2012 lalu. Tak dapat dipungkiri, karena film-film superhero sendiri begitu disenangi oleh semua kalangan belakangan ini. Proyek ini juga begitu ambisius untuk merajai box office seperti film pertamanya The Rise of Cobra dengan pendapatan melebihi 300 juta dollar.

March 30, 2013

[Review] Madre (2013)


"Di dunia ini tidak ada yang rela menjual ibunya sendiri dan Madre itu ibarat ibu saya!" - Tansen

Madre adalah film adaptasi dari novel karya Dewi Lestari dengan judul yang sama. Sebelumnya saya belum membaca novelnya tapi saya mencoba untuk berkeyakinan bahwa film ini bisa dinikmati tanpa membacanya terlebih dahulu. Novelnya sendiri terdiri dari beberapa cerita namun Benni Setiawan membuat film ini menjadi satu kesatuan utuh berbeda dengan film adaptasi karya Dewi Lestari yang terdahulu, Rectoverso. Seperti yang dapat ditebak, tentu saja film ini ditambahi beberapa cerita diluar novelnya.

March 24, 2013

[Review] Berani Mengubah


Judul : Berani Mengubah
Penulis : Pandji Pragiwaksono
Terbit : Desember 2012
Tebal : 212 Halaman
Penerbit : Bentang Pustaka
Harga : Rp 31.000,-

Ada orang yang skeptis bisa mengubah Indonesia.
Ada yang optimis.
Banyak pemuda yang selalu mempertanyakan kemajuan bangsanya. Padahal, semua sejarah menyatakan bahwa perubahan dibawa oleh pemudanya.
Coba lempar pertanyaan itu kepada diri kita sendiri, dan bergeraklah. Sekecil apa pun.
Saya memang gerah, dan saya memilih untuk tidak menyerah.

Buku ini adalah buku ketiga dari seorang Pandji. Dia adalah seorang stand up comedian favorit saya. Setiap dia melemparkan materi-materi di panggung stand up ada sebuah sudut pandang yang kritis tentang Indonesia. Hingga Pandji menerbitkan buku ini, tentu saya tidak bisa untuk tidak melewatkannya. Banyak dari kita tentunya mempunyai keinginan yang sangat dalam untuk bisa berpatisipasi dalam perubahan Indonesia tetapi selalu terbentur masalah klasik; "Saya bisa apa?" "Darimana saya memulainya?". Terlalu jauh pikiran kita untuk berpikir ke depan tanpa sekalipun memandang hal-hal kecil di sekeliling kita yang mungkin bisa berdampak terhadap perubahan Indonesia. Wajar memang, karena sudut pandang saya pribadi pun mengatakan hal yang sama.

Dalam buku ini, tak tanggung-tanggung di bab pertama Pandji langsung membahas perihal "Belajar Politik". Saya yang awam mengenai dunia politik sempat berpikir "Waduh ini awal-awal kok udah berat banget." Namun ternyata saya salah besar. Dengan bahasa yang mudah dipahami, Pandji mengajak kita untuk membandingkan pemerintahan di zaman pak SBY dan pak Soeharto. Di dalam bab ini juga mengingatkan saya tentang pengetahuan yang selama ini saya dapat di mata pelajaran Sejarah. Lalu berlanjut di bab "Belajar Hukum" dan "Belajar Ekonomi". Diawali dengan pengalaman Pandji ketika ditilang polisi, penjabaran hukum di Indonesia, dan fakta-fakta tentang ekonomi membuat kita yang merasa tidak begitu penting ingin sekali melanjutkan bab ini sampai selesai. Untuk ukuran mahasiswa, saya rasa perlu membaca buku ini. Entah kapan, dan apa yang kita akan perbuat untuk perubahan namun kita sudah mempunyai sedikit ilmu pengetahuan berkaitan politik, hukum, dan ekonomi dilihat dari sudut pandang Pandji. Dan yang paling saya suka adalah ketika Pandji menambahkan note-note kecil di akhir bab tentang aksi perubahan yang harus kita mulai.

Setelah kita berkutat tentang perihal politik, hukum, dan ekonomi dilanjutkan dengan bab-bab yang mulai membahas tentang bagaimana menciptakan perubahan itu sendiri. Dan bagian favorit saya, ada bab dimana Pandji mulai bercerita pengalamannya ketika dia meng-interview atheis. Bagaimana seorang Pandji menyuruh atheis tersebut untuk menyakinkannya bahwa Tuhan itu tidak ada. Saya sangat menikmati dialog mereka.

Finally, buku ini tidak hanya ajakan untuk kita melakukan perubahan terhadap Indonesia namun juga terdapat banyak sekali pengetahuan-pengetahuan tentang Indonesia yang selam ini kita remehkan, bahkan tentang debat pro-kontra kenaikan BBM tahun silam, dan masalah FPI juga dibahas. Mungkin dengan membaca buku ini, kita jadi berhenti untuk selalu mempertanyakan perubahan Indonesia kepada pemerintah namun perubahan dapat kita ciptakan sendiri mulai dari hal-hal kecil.

March 23, 2013

Gerobak Cokelat


Yap. Cokelat adalah makanan idaman kebanyakan orang. Di Gerobak Cokelat, menyajikan berbagai menu dengan minuman dan makanan yang mengandung unsur cokelat. Tempat ini berlokasi di Jl. Slamet Riyadi 510 Purwosari, sebelah Timur Yahoo. Daya tampung untuk konsumen memang relatif kecil, di dalam ada sekitar 10 meja lesehan dan 5 tikar yang disediakan di luar. Meskipun tidak ada wifi ataupun tivi, namun Gerobak Cokelat tidak selalu sepi pengunjung. Justru tempat yang tenang dengan suasana santai seperti ini yang membuat pengunjung betah berlama-lama menikmati makanan sembari ngobrol ngalor ngidul. Harga yang ditawarkan juga masih bisa dijangkau oleh Mahasiswa. Berikut adalah beberapa makanan yang saya pesan.



Ori Pancake. Tak jauh berbeda dengan pancake pada umumnya. Cukup dengan harga Rp 8.000,- bisa mengenyangkan perut. Taburan kacang, keju yang menyelimuti adonan tepung dan ditambah olesan cokelat berbentuk hati di atasnya membuat sayang untuk dimakan.



Ginger Chocolate. Saya suka jahe. Saya suka cokelat. Lalu jika dicampur? Ya inilah campuran unik antara jahe dan cokelat. Rasa pedes jahe-nya sangat tajam di awal menyeduhnya, lalu perlahan-lahan mulai digantikan oleh rasa cokelat. Nikmat memang, cukup dengan Rp 8.000,- mampu menghangatkan tenggorokan.